Pameran Arsip Foto: Soekarno Nyaba Ka Banten Dari Konsolidasi Kadaulatan Hingga Demokrasi Terpimpin

0
104 views

BANTENKINI.COM, RANGKASBITUNG – Ruang Komtemporer merupakan ruang terakhir dari tujuh ruang yang ada di dalam gedung Museum Multatuli Lebak, dimana penyelenggaraan Pameran Arsip Foto bertajuk “Soekarno Nyaba Banten” berlangsung selama sebelas hari, 25 November-10 Desember 2022.

Pameran ini dikuratori oleh Hendra Permana, kurator Museum Multatuli Lebak yang mencoba merekonstruksi ulang peristiwa kunjungan Soekarno ke daerah Banten di tahun 1951 dan 1957. Menampilkan 103 foto dan 15 surat kabar sezaman yang memberitakan peristiwa kunjungan Soekarno ke Banten.

“Ada sekitar 103 foto dan 15 surat kabar sezaman yang ditampilkan dalam pameran ini. Foto-foto yang dipamerkan didapatkan dari ANRI dalam Inventaris Arsip Foto Kempen (Kementerian Penerangan) Jawa Barat tahun 1951 dan 1957, dan surat kabar didapat dari Perpusnas RI serta Jogja Library Center, Yogyakarta,” tutur Hendra, pria yang akrab disapa Bada kepada awak media, di Rangkasbitung, Jumat (2/12/2022).

Dikatakannya, pameran ini memiliki dua storyline berdasarkan tahun kunjungan Soekarno, yakni 1951 dan 1957. Di tahun 1951, Soekarno mengunjungi hampir semua titik penting di wilayah Banten, seperti Merak, Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, Leuwidamar, Pamarayan, dan Tangerang—kunjungan ini dilakukan selama tiga hari, sejak 3 hingga 5 September 1951.

“Poin-poin yang dibahas dalam pidato Soekarno di tempat-tempat kunjungan tersebut meliputi masalah-masalah pembangunan Indonesia; penyelesaian pertentangan internasional—termasuk isu Irian; persatuan, dan lainnya,” kata Hendra.

Sementara, kunjungan Soekarno khusus ke Rangkasbitung dan Serang pada 1957 sangat sarat akan kepentingan politik. Karena di awal tahun itu (1957), Soekarno tengah menggodok suatu “konsepsi” jalan tengah yang nantinya akan melahirkan Demokrasi Terpimpin.

“Soekarno merasa perlu mengadakan konsolidasi massa agar konsepsinya itu dikenal serta didukung oleh masyarakat luas, termasuk di daerah Banten,” imbuh Bada.

Menurut Hendra, di satu sisi, pameran arsip foto ini dihadirkan untuk menunjukkan posisi wilayah Banten yang penting dalam konsolidasi massa pasca pengakuan kedaulatan Indonesia dari Belanda pada 1949.

Namun di sisi lain, jarak Banten yang tidak terlalu jauh dari ibukota Jakarta, tetapi bekas wilayah kekuasaan Negara Pasundan bentukan Belanda pastilah membuat Soekarno merasa perlu mengunjungi Banten untuk menguatkan persatuan dan nasionalisme.
Sedangkan kunjungan ke Leuwidamar ditengarai betapa Soekarno sangat menghormati masyarakat Baduy secara khusus.

“Secara lebih khusus, kunjungan Soekarno ke Leuwidamar menunjukkan bahwa ia menghormati masyarakat adat Baduy sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Untuk diketahui, terdapat tujuh ruang di dalam Museum Multatuli, yakni: Ruang Satu: Ruang Selamat Datang; Ruang Dua: Kolonial, Masuknya Kolonialisme, Kapal-kapal Belanda, dan Rempah-rempah; Ruang Tiga: Sistem, Penerapan Sistem Kolonial dan Seputar Kopi; Ruang Empat: Multatuli, Koleksi, dan Tokoh Inspirasi Multatuli; Ruang Lima: Banten, Melawan Kolonialisme, Organisasi Pergerakan Nasional, dan Peristiwa Penting; Ruang Enam: Lebak, Kronologi Sejarah, dan Koleksi, dan; Ruang Tujuh: Ruang Kontemporer dan Orang-orang Rangkasbitung.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here