KH Imaduddin Utsman : Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim Tetap Melarang Umat Islam Ucap Salam Lintas Agama

0
85 views

BANTENKINI.COM, TANGERANG – Hasil Bahtsul Masail PWNU Jatim yang dibacakan dalam konprensi pers Selasa kemarin (12/11) di Kantor PWNU Jatim menghasilkan kesimpulan bolehnya pejabat negara dalam kondisi tertentu mengucapkan salam lintas agama.

Dikonfirmasi hal itu, K.H. Imaduddin Utsman, Wakatib Syuriah PWNU Banten, yang berpendapat bahwa mengucapkan salam agama lain, seperti Ong Swastyastu, hukumnya haram bagi umat Islam.

Menurut Imaduddin, hasik bahsul masail PWNU Jatim itu sebenarnya menghasilkan kesimpulan sama bahwa mengucapkan salam agama lain itu haram bagi umat islam.

“Coba perhatikan dengan seksama hasil keputusan bahsul masail itu!. Saya sudah baca hasil keputusan lengkapnya yang di sebarkan dalam format pdf. Tidak ada keputusan bolehnya umat Islam mengucapkan Om Swastyastu atau salam agama lainnya,” tegasnya, Rabu (13/11).

Ditambahkan Pengasuh Ponpes NU Kresek ini bahwa hasil bahsul masail itu memang ada tambahan yaitu dalam kondisi darurat seorang pejabat negara boleh mengucapkan salam lintas agama untuk menjaga persatuan dan menghindari perpecahan.

“Jadi hukum asalnya tetap haram. Cuma dalam kondisi darurat boleh dilakukan. Hukumnya sama dengan makan babi bagi orang yang darurat,” ujarnya.

Sebelumnya, di bantenkini.com, K.H. Imaduddin Utsman menyebutkan bahwa mengucapkan salam agama lain semacam Om Swastyastu, bagi umat Islam hukumnya haram. Dalam opininya tersebut Imaduddin menyebutkan beberapa alasan kenapa mengucapkan salam agama lain itu haram?.

Pertama, berdasarkan firman Allah dalam Surat Al Hadid ayat 16, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberikan kitab (Yahudi dan Nashrani).

Imaduddin menjelaskan, bahwa Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menyatakan bahwa orang mukmin dilarang menyerupai non muslim dalam segala hukum baik ushul maupun furu.

Dalil yang kedua yang disampaikan Imaduddin, adalah hadits riwayat Abu Daud yang artinya siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kedalam golongan kaum tersebut.

Menurut Imaduddin, hadits ini ditafsirkan oleh para ulama bahwa orang yang menyerupai orang kafir dalam ajaran agama mereka maka ia termasuk dalam hukum itu sesuai kadar tasyabuhnya (Keserupaannya).

Dalil yang ketiga yang disebutkan Imaduddin dalam opininya itu adalah hadis riwayat Tabrani dari Anas bin Malik dimana diriwayatkan ketika Wahab bin Umer berkata kepada Nabi Muhammad SAW., An’im Sobaahan (selamat pagi).

Maka kemudian Nabi menjawab, Allah telah mengganti kalimat itu dengan yang lebih baik. Maksud kalimat yang lebih baik itu adalah kalimat assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.(Kie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here