Pegiat Literasi Kabupaten Lebak Ikuti Pelatihan Menulis Cerita Rakyat Kantor Bahasa Provinsi Banten

0
41 views
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten Halimi Hadibrata, M.Pd di depan peserta Pelatihan Menulis Cerita Rakyat, Selasa (25/5/2021).

BANTENKINI.COM, LEBAK – Sebanyak 40 peserta dari pegiat literasi di Kabupaten Lebak mengikuti kegiatan Pelatihan Penulisan Cerita Rakyat bagi Pegiat Literasi di Kabupaten Lebak sebagai program Pemberdayaan Pegiat Literasi oleh Kantor Bahasa Provinsi Banten, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang dilaksanakan di Aula Serba Guna Kampus STKIP Setia Budhi Rangkasbitung selama tiga hari, 25 s.d 27 Mei 2021. Kagiatan dilaksanakan dengan menerapkan Protokol Kesehatan sesuai aturan Pemerintah dan juga dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Cluad Meeting.

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten Halimi Hadibrata, M.Pd menyampaikan, kegiatan tersebut bertujuan menjaring cerita rakyat yang ada di Provinsi Banten, khususnya Kabupaten Lebak. Dikarenakan pada masa sekarang ini, cerita rakyat yang penuh dengan pesan-pesan nilai luhur kemanusiaan semakin tersisih di tengah arus disrubsi teknologi informasi yang cepat berkembang.

“Kami ingin pesan-pesan nilai luhur kemanusiaan dalam cerita rakyat agar tetap eksis di tengah mesayarakat, untuk itulah tujuan kegiatan ini (pelatihan menulis cerita rakyat. Red) diselenggarakan,” ujarnya, Selasa (25/5/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut itu melibatkan 40 pegiat literasi di Kabupaten Lebak. Di hari pertama, setelah pemaparan sambutan dari Kepala Kantor Bahasa Provinsi Banten, materi berjudul Literasi, Pelestarian Sastra Lisan, dan Jenis-jenis disampaikan oleh DC Aryadi.

Memasuki hari kedua, Dr. Maman Rukmana menyampaikan materi seputar Jenis-jenis dan Karakteristik Cerita Rakyat di Provinsi Banten. Para peserta diberikan pendampingan dan pendalaman bagaimana menulis cerita rakyat yang sesuai dengan perkembangan jaman.

“Dalam penulisan cerita rakyat, jika terdapat ungkapan bahasa daerah yang jika diterjemahkan secara detil ke dalam bahasa Indonesia akan merubah makna pesan sesungguhnya, sebaiknya biarkan saja ditulis dengan bahasa daerah, kemudian baru disampaikan penjelasan maksud dari ungkapan tersebut,” kata Maman Rumana, Rabu (26/5/2021).

Sebagaimana yang telah ditetapkan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jika akan dibukukan, konten dalam penulisan cerita rakyat harus menghindari unsur-unsur kekerasan verbal, pronografi dan pornoaksi, dan juga menghindari unsur sara. Hal demikian disampaikan Dody Kristianto selaku paitia penyelenggara dari Kantor Bahasa Provinsi Banten.

“Dalam penulisan cerita rakyat, unsur kekerasan verbal kerap diuraikan dalam alur kisahnya. Kami mengharapkan hal tersebut dapat dihindari. Para menulis diharapkan mampu mensiasati secara teknis penulisannya. Hal ini sesuai dengan ketentuan dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Sebab rencananya, akan ada karya terbaik yang akan dibukukan,” ujar Dody.

Kegiatan hari terakhir diisi dengan materi Teknik Penulisan Cerita Rakyat oleh Budi Harsoni. Dalam presentasinya, Budi Lengket sapaan akrabnya menyampaikan materi berjudul Nafas Baru dalam Cerita Rakyat dengan pendekatan antroplogi.

“Budaya dalam pandangan antropologi selalu berubah, kebaikan yang kita lakukan hari ini seratus tahun kemudian, bisa jadi dianggap sebagai budaya luhur bagi generasi jamannya,” ujar Budi Harsoni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here