Gaya Komunikasi Prabowo Antara Kontroversi dan Kredibilitas

0
29 views

Ditulis oleh: Sukmasih*

Kampanye pemilihan presiden (Pilpres) 2024 memasuki fase krusial. Setiap gerak-gerik, ucapan, dan perilaku calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) menjadi sorotan publik.

Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka kerap menarik perhatian publik karena gaya komunikasinya. Prabowo dikenal sebagai sosok yang berani, tegas, dan vokal dalam menyampaikan gagasan dan kritiknya. Namun, di sisi lain, Prabowo juga sering menunjukkan emosi yang tidak terkendali, yang berujung pada pernyataan-pernyataan kontroversial.

Pernyataan-pernyataan kontroversial Prabowo dapat merugikan citra dan elektabilitasnya. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa Prabowo tidak profesional, tidak stabil, tidak beretika, dan tidak kredibel.

Pernyataan-pernyataan tersebut juga dapat menimbulkan kontroversi, konflik, dan polarisasi di tengah masyarakat. Pernyataan-pernyataan tersebut juga dapat merusak hubungan Prabowo dengan lawan politik, media, dan pemilih.

Hal ini terlihat dari beberapa pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan kampanye terbuka, terutama selepas menjalani debat Pilpres. Prabowo tampak tidak mampu mengelola emosinya dengan baik ketika menghadapi pertanyaan, kritik, atau tantangan dari lawan politiknya.

Prabowo cenderung bereaksi secara defensif, agresif, dan ofensif, dengan menggunakan kata-kata kasar, sindiran, atau ejekan, yang tidak sesuai dengan etika dan norma berkomunikasi.

Salah satu contoh adalah pernyataan Prabowo yang mengatakan “Etik, etik, etik. Ndasmu etik (etik kepalamu)” sebagai tanggapan atas pertanyaan Anies Baswedan tentang perasaan Prabowo yang bisa berpasangan dengan Gibran dengan landasan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat batas usia capres-cawapres yang kontroversial dan melanggar kode etik.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak menghargai proses hukum dan etik yang berlaku di negara ini, dan juga tidak menghormati lawan politiknya yang memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan.

Contoh lain adalah pernyataan Prabowo yang mengatakan “Saudara-saudara ada pula yang nyinggung-nyinggung punya tanah berapa, punya tanah ini, dia pinter atau goblok, sih?” dan “Enggak usah di bawa-bawa debat, lah. Anda hanya memperlihatkan ketololan Anda” sebagai tanggapan atas pertanyaan Anies Baswedan tentang kepemilikan tanah Prabowo yang menjadi isu dalam debat ketiga Pilpres.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Prabowo tidak mau transparan dan akuntabel tentang aset dan kekayaannya, dan juga tidak mau menjawab pertanyaan yang relevan dengan isu pertahanan dan keamanan. Prabowo juga menunjukkan sikap arogan dan merendahkan lawan politiknya dengan menggunakan kata-kata “goblok” dan “tolol”.

Pernyataan-pernyataan kontroversial Prabowo ini tentu saja tidak lepas dari sorotan media massa dan media sosial, yang menjadi saluran utama komunikasi politik di era digital. Media massa dan media sosial memiliki peran yang signifikan dalam membentuk opini publik, terutama dalam konteks Pilpres.

 

Media massa dan media sosial dapat menjadi alat untuk menyebarkan, mengamplifikasi, atau mengkritisi pesan-pesan politik yang disampaikan oleh capres dan cawapres. Media massa dan media sosial juga dapat menjadi alat untuk mengukur popularitas, kredibilitas, dan elektabilitas capres dan cawapres di mata khalayak.

Dalam hal ini, pernyataan-pernyataan kontroversial Prabowo cenderung mendapat respons negatif dari media massa dan media sosial, baik dari para jurnalis, analis, maupun netizen. Pernyataan-pernyataan kontroversial Prabowo dianggap sebagai blunder, gaffe, atau faux pas, yang merugikan citra dan elektabilitas Prabowo sendiri, maupun pasangannya, Gibran Rakabuming Raka.

Pernyataan-pernyataan kontroversial Prabowo juga dianggap sebagai bukti bahwa Prabowo tidak memiliki kualitas dan kapasitas yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin negara, yang seharusnya mampu berkomunikasi dengan baik, bijak, dan berwibawa.

Oleh karena itu, penting bagi Prabowo dan tim kampanye nasional (TKN) nya untuk melakukan manajemen emosi yang lebih baik dalam proses kampanye Pilpres. Manajemen emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengungkapkan, dan mengatur emosi diri sendiri dan orang lain secara efektif. Manajemen emosi dapat membantu Prabowo untuk menghindari pernyataan-pernyataan kontroversial yang dapat merusak reputasi dan elektabilitasnya.

Manajemen emosi juga dapat membantu Prabowo untuk menyampaikan pesan-pesan politik yang lebih positif, konstruktif, dan substantif, yang dapat meningkatkan koneksi, keterlibatan, dan loyalitas dengan khalayak.

 

*Penulis merupakan Social Media Enthusiast & Public Relations yang belajar di Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip-Untirta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here