URGENSI PENDIDIKAN NILAI-NILAI PLURALISME DI KALANGAN SANTRI

0
6 views

BANTENKINI.COM, TANGERANG – Indonesia merupakan negara besar yang memiliki corak keragaman yang cukup tinggi, yang ditunjukkan dengan adanya berbagai macam suku, agama, budaya, tradisi, bahasa daerah, golongan, serta wilayah, yang membentang dari Sabang di bagian Barat sampai dengan Merauke di bagian Timur. Realitas tersebut menjadikan kita harus mampu menerima dan menyikapi perbedaan-perbedaan itu secara bijaksana.

Pluralitas adalah hukum alam yang berlaku secara universal, bagian dari anugerah Tuhan yang perlu disyukuri dan dikelola dengan baik. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohammad Maiwan, Ph.D, dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, selaku narasumber dalam acara workshop dalam kegiatan Program Pengabdian Kepada Masyarakat UNJ yang bertajuk, Pendidikan Nilai-Nilai Pluralisme di Pondok Pesantren Daar el Qolam 3, Desa Gintung, Jayanti, Tangerang, Provinsi Banten.

Kegiatan yang diselenggarakan pada hari Rabu Tanggal 29 September 2021 dan dilakukan secara daring tersebut bertujuan memberikan bekal dan wawasan terhadap para santri tentang bagaimana cara menghadapi dan mengelola fenomena keragaman dalam kehidupan. Menurut narasumber, selama ini munculnya konflik-konflik, sikap intoleransi, diskriminasi, dan benih-benih keresahan dalam masyarakat seringkali dipicu oleh pemahaman yang keliru atas realitas kehidupan. Hal itu disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman individu maupun kelompok dalam menghadapi perbedaan.

Mohammad Maiwan menekankan bahwa, para santri selama ini justru sudah memiliki bekal dasar yang cukup dalam menghadapi realitas keragaman melalui praktek kehidupan sehari-hari di lingkungan pondok pesantren. Pada umumnya, para santri berasal dari berbagai daerah dan lapisan sosial dengan latar belakang dan corak budaya, tradisi, orientasi, dan cara hidup yang berbeda. Namun demikian, para santri mampu menghadapi itu semua, serta berhasil melewati masa-masa belajar selama beberapa tahun dengan baik. Dunia pesantren sesungguhnya potret institusi yang sarat dengan nilai-nilai pluralisme, dan secara otomatis juga membekali kemampuan para santri dalam menghadapi segala situasi.

Di tengah-tengah arus perubahan sosial yang kencang dewasa ini, di mana masyarakat seringkali diombang ambingkan oleh berbagai informasi dan narasi-narasi menyesatkan yang cenderung memecah belah kehidupan kebangsaan, kalangan santri punya potensi menjadi kekuatan perekat bangsa. Dalam perspektif yang lebih luas, narasumber juga menjelaskan, bahwa yang perlu dikembangkan lebih jauh adalah bagaimana mengaktualisasikan kemampuan dalam mengelola perbedaan-perbedaan itu dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara nyata.

Karena bagaimanapun, para santri adalah bagian dari calon-calon pemimpin di masyarakat. Harapannya adalah melalui kearifan dalam melihat, memahami, menyikapi, serta mengelola perbedaan itu, golongan muda, khususnya para santri dan pelajar kelak turut berkontribusi menghadirkan wajah kehidupan bangsa yang beragam dalam bingkai kedamaian. Dalam kata penutupnya, narasumber mengajak para santri peserta workshop, dan khalayak pada umumnya, secara bersama-sama menjadi “jangkar” dalam menjaga nilai-nilai toleransi dan kebersamaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here