Tetap Disiplin Protokol kesehatan, Pandemi Covid-19 Belum Berakhir

0
12 views

Oleh : Ridwan Muwahid )*

Masa pandemi masih berlaku namun sayang ada yang seakan amnesia dadakan dan melabrak protokol kesehatan. Mereka lantas traveling dan melakukan hal lain seperti biasa, dan lupa akan resiko jika kena corona. Kondisi seperti ini sangat miris karena bisa menyebabkan penularan virus covid-19 makin menggila.
Libur panjang di akhir oktober lalu menjadi masa yang mengkhawatirkan karena ada kalangan masyarakat yang bandel. Walau sudah diingatkan oleh aparat, tim satgas, dan para tenaga medis, namun mereka tidak mau jika berdiam diri di rumah saja untuk meminimalisir kena corona. Namun malah asyik bepergian, baik di dalam maupun luar kota, dengan alasan bosan saat work at home.
Petugas sudah berusaha mencegah rombongan dengan cara mencegat di jalan menuju tempat wisata. Di dekat Puncak, rombongan wisatawan tak boleh melaju, namun harus melalui pemeriksaan. Mereka yang tak pakai masker akan kena sanksi. Semua yang akan masuk harus dites rapid. Benar saja, ada yang hasilnya reaktif, sehingga dihalau pulang untuk wajib isolasi mandiri.
Namun sayangnya dari mereka ada yang masih bandel dan lari tunggang-langgang dari kejaran petugas. Padahal para aparat dan tim medis bukanlah untuk ditakuti, namun hanya menjalankan tugasnya untuk menjaga ketertiban masyarakat. Apalagi saat masa pandemi, makin diperketat lagi penjagaannya, demi kesehatan dan keamanan bersama.
Masyarakat terus diingatkan oleh tim satgas untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Sosialisasinya pun dilakukan di banyak tempat, seperti TV dan media sosial, dan selalu diulang. Protokol kesehatan selalu disebutkan, agar banyak orang sadar bahwa sekarang masih masa pandemi. Karena ada yang salah sangaka bahwa masa new normal berarti sudah normal.
Walau istilah new normal sudah diganti dengan fase adaptasi kebiasaan baru, namun masyarakat mungkin ada yang bingung. Atau bisa jadi mereka sudah lelah menghadapi berbagai protokol kesehatan lalu merasa masa bodoh dengan pandemi. Lalu melepaskan maskernya dan lupa untuk membawa hand sanitizer serta malas cuci tangan, padahal sudah ada tempatnya.
Yang lebih sedihnya lagi, ada yang menganggap bahwa corona adalah penyakit orang kota. Tim satgas covid sebaiknya melakukan sosialisasi lagi hingga ke desa terpencil, tujuannya agar mereka paham akan bahaya corona. Sehingga tidak lagi menganggap penyakit ini hanya mitos belaka, dan mereka mau mematuhi protokol kesehatan.
Dalam sosialisasi tersebut bisa diperlihatkan bagaimana kondisi pasien corona melalui foto dan video, sehingga mereka akan mendapat sedikit efek jera. Jadi akan disiplin dalam memakai masker dan mencuci tangan, serta menjaga jarak dan menghindari keramaian. Karena bisa jadi mereka bingung corona itu seperti apa.
Saat ada sosialisasi protokol kesehatan, bisa juga ditambah dengan pembagian paket berisi masker dan hand sanitizer agar mereka ingat untuk selalu memakainya. Biasanya barang gratis akan selalu diminati dan memancing banyak orang untuk mau mengikuti acara tersbut Sehingga mereka ingat untuk bawa hand sanitizer.
Dengan cara ini maka baik masyarakat di desa dan kota akan sadar akan bahaya corona dan selalu ingat untuk mematuhi protokol kesehatan. Melakukannya memang butuh ketelatenan tapi lama-lama akan terbiasa. Rasanya aneh jika keluar rumah tanpa masker. Juga cek tas apakah sudah bawa hand sanitizer.
Untuk meningkatkan kedisiplinan masyarakat dalam melawan corona dan mematuhi protokol kesehatan memang butuh strategi, agar mereka tidak merasa terbebani ketika melakukannya. Memakai masker bukan atas paksaan, tapi sudah jadi kebiasaan yang terbentuk dari kesadaran sendiri. Semoga makin banyak orang yang taat protokol sehingga pandemi lekas berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here