Tangani Toleransi Dengan Pendekatan Budaya

0
7 views

BANTENKINI.COM, SERANG – Toleransi adalah lentur dalam pemikiran dan tegas dalam pengamalan, demikian sikap Forum Komunikasi Pemuda Lintas Agama (FKPLA) Banten dalam menanggapi maraknya intoleransi yang akhir- akhir ini terjadi.

Tokoh Pemudi Buddhis Maya Sari Putri mengatakan dalam meanggapai maraknya intoleransi umat budha lebih memilih diam demi terjaganya NKRI yang rukun.

“Bukan cuman kaum saya yang ingin tolerasi, mungkin kaum minoritas lain ingin juga toleransi. Umat budda lebih memilih diam untuk keutuhan NKRI,” katanya dalam acara diskusi Ngobrol Santai, Sekaligus Memperingati Hari Toleransi Internasional 2019 di Kota Serang, Minggu (17/11)

Pemateri dari Orang Muda Katolik (OM) Kota Cilegon Frandy Seda memberikan cara agar tumbuh toleransi.

“Tolerasi sebenernya berawal dari membuka diri, orang bertoleransi harus menahan diri, maka dia tidak akan membuat onar itulah toleransi. Kalau saya biasa menerapakan, kalau ketemu orang itu selalu senyum, sapa, salam,” ujarnya

Ia melanjutkan, untuk menangani intoleransi harus dengab pendekatan kebudayaan, sebab kebudayaan adalah bahasa universal, dan budaya adalah berbicara keberagaman.

Senada dengan itu diungkapkan Ketua Pemuda GKI Serang Fialdi, ia mengungkapkan toleransi ada karena ada keanekaragaman mulai dari agama, ras dan budaya. Dengan keberagaman justru membuat hidup berwarna dan indah

“Kristen ini di serang minoritas, jadi pergaulan kita dengan mayoritas, jadi kadang mengikuti yang mayoritas. Kita sangat senang ketika ada kegiatan seperti ini kumpulan lintas agama. Mari kita sam sama menumbuhkan toleransi kepada diri sendiri, dan kami mohon kepada teman teman semua bahwa kita pun dari kristen ingin berbuat baik,” ujarnya

Pihaknya mengungkapkan bahkan dirinya akan toleransi kepada orang yang intoleran, kita jangan benci, tetapi yang dibenci adalah pemikirannya.

Diwaktu yang sama, Koordinator GUSDURian Banten Taufik Hidayat menjelaskan di islam ada istilah ummatan wasaton, maksudnya adalah islam moderat jadi ummat manusia harus bersatu.

“Mereka yang masih baku hantam. Mereka tidak paham terhadap toleransi,” Jelasnya

Pemuda Hindu Banten Yasa Giriana pun menyamampaikan hal yang sama pihaknya menyarankan untuk mengkesampingkan keburukan orang lain. Bahkan kepada orang yang intoleran haris diajak berkomunikasi agar tumbuh toleransi.

“Kita kesampaingkan keburukan orang, tapi kita junjung tinggi kebaikan kita kepada orang. Kepada orang yang intoleran, kita harus ajak mereka berkomunikasi bukan malah menjahui, dengan itu maka kita akan hidup rukun,” pumgkasnya.

Hadir dalam kegiatan diskusi ini Dosen Universitas Tirtayasa (Untirta) Alit, pihaknya mengapresiasi adanya diskusi para pemuda, berarti indonesia masih ounya harapan kedepan.

“Kalau para pemuda ada kumpul, diskusi, berarti Indonesia masih punya harapan. Toleransi adalah suatu keniscayaan, karena Allah menciptakan kita berbeda beda,” katanya

Serang, imbuh Alit, tidak ada masalah dengan perbedaan perbedaan dan kita harus menjaga kerukunan ini.

“Dengan berdiskusi, saya yakin perbedaan perbedaan menjadi rahmat bagi kita. Kita tidak bisa mengharapkan dari orang lain untuk toleransi, tapi harus dari diri kita sendiri,” pungkasnya.(Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here