SANTRI IKHLAS (Mengenang 23 Tahun Kepulangan KH Ahmad Rifa’i Arief)

0
89 views

Oleh: Chavchay Syaifullah*

Ia telah pulang 23 tahun lalu. Di antara pohon kamboja, di area pemakaman keluarga, di kampung halaman yang panas, ada batu nisan tertulis namanya. Siang hari itu, 15 Juni 1997, usai berceramah dan melepas kepulangan para santri Pesantren Daar el Qolam ke rumah masing-masing, ia bersujud lama dan tergeletak di atas sajadah. Ia pulang.

Pulang, ya manusia pasti pulang. Pulang ke kampung halaman yang sejati. Sebagai pendiri Pesantren Daar el Qolam dan Pesantren La Tansa, ia tahu bahwa manusia pada momentumnya pasti akan pulang menuju alam sejati. Karenanya, siapapun mau tidak mau harus belajar tentang nilai-nilai kesejatian dari apapun dan siapapun. Pun di pesantren, semua pihak bukan hanya terus menerus memelajari nilai-nilai kesejatian, tapi melakoninya dengan penuh khidmat.

Bagi Kyai Rifa’i, sosok kyai adalah pemimpin bagi para santri, para guru dan seluruh yang bernaung di dalam lingkungan pesantren. Sebagai pemimpin, kyai harus terus belajar dan mengasah nilai-nilai kesejatian, termasuk belajar dari kehidupan mereka yang dipimpin. Yang memimpin dan yang dipimpin bersama-sama menggali nilai-nilai kesejatian. Maka baginya, pesantren adalah semacam kampung kesejatian. “Wahana penggalian nilai-nilai keikhlasan,” kata Kyai Rifa’i.

Keikhlasan adalah salah satu nilai kesejatian yang harus hidup dan terus dihidupkan dalam pesantren. Dalam berbagai kesempatan, keikhlasan yang abstrak itu, seringkali Kyai Rifa’i menjelaskannya dari contoh-contoh kecil. Misal, baginya, pesantren bukan sekadar lembaga yang hanya menerapkan sistem ajar, melainkan juga sistem asuh. Bahkan sistem asuh pesantren bernilai sangat mahal dan boleh dikatakan sebagai jantung kehidupan pesantren. Namun uniknya, sistem asuh ini bergerak begitu saja. Seperti ombak. Terus berdebur. Dari gelombang besar menuju gelombang kecil, hingga menjadi buih-buih di tepian pantai. Lalu menggulung kembali dari tepian ke pusat gelombang. Begitu seterusnya.

Sistem asuh 24 jam dalam pesantren juga menjadi pelayanan ketauladanan yang ajeg. Tulus. Gratis. Tidak berbayar, sebab iuran yang terjadi di lingkungan pesantren, jangankan untuk mengganti jasa asuh santri dengan keluhuran nilai-nilai Islam, untuk membayar ganti jasa ajar, makan, listrik asrama, cuci pakaian, dan lainnya sebenarnya tidak cukup.

Sistem asuh bisa terjadi di pesantren, bagi Kyai Rifa’i, kalau ada nilai-nilai keikhlasan yang terbangun. Kyainya kudu ikhlas, gurunya kudu ikhlas, santrinya kudu ikhlas, wali santrinya kudu ikhlas. Tanpa semua itu, sistem asuh dalam pesantren tidak akan berjalan. Kalau kyainya tidak ikhlas memimpin, guru-guru pun akan tidak ikhlas mengajar, para pengurus tidak akan ikhlas mengawal peraturan pesantren, dan santri-santri pun tak akan ikhlas diatur-atur. Keikhlasan meluncur dari atas ke bawah. Namun untuk belajar keikhlasan, sang kyai harus mau belajar dari bawah, dari kehidupan riil para santri. Sang kyai harus bisa menangkap perasaan para santrinya agar ia bisa menangkap atmosfer kehidupan pesantrennya dan merumuskan kebijakan pesantren yang tepat pada konteksnya.

Tidak heran, bila ada santri yang sering melanggar peraturan pondok, ada beberapa kebijakan berbeda yang jatuh ke tangan santri yang berbeda. Ketika pengurus sudah menerapkan peraturan dan menerbitkan sanksi bagi pelanggar, selanjutnya diserahkan pada pimpinan. Saat itulah sang kyai memainkan perannya. Ia mendekati persoalan santrinya secara personal dengan keikhlasan. Meluaskan konteks hukuman agar kebaikan bisa terjadi bagi santri tersebut.

Jadi, keikhlasan, bukan semata sistem kerja yang berorientasi pada non-materi. Keikhlasan juga berlaku sebagai kerja menuju kebaikan bersama melalui rasa. Rasa inilah yang harus direbut oleh sang kyai dari para santrinya. Sehingga tidak mengejutkan, bila ada kyai terlalu banyak meninggalkan pesantrennya untuk hal-hal material di luar, maka pesantrennya akan ambruk. Ini lantaran kyai tersebut jauh dari santrinya, jauh dari “rasa bawahan”. Kyai yang elitis, jauh dari rasa santrinya, cermin dari adanya gangguan keikhlasan. Sang kyai akan diliputi rasa galau. “Kalau ukurannya adalah keikhlasan dia akan penuh ketenangan, sebab ia penuh rasa qana’ah,” jelas Kyai Rifa’i.

Selanjutnya, pandangan Kyai Rifa’i tentang keikhlasan dalam pesantren yang harus dijaga, bukanlah kondisi yang berdiri sendiri. Secara umum, Kyai Rifa’i sering menjelaskannya sebagai salah satu dari apa yang populer di lingkungan pesantren sebagai Panca Jiwa Pondok: Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah, dan Kebebasan. Namun secara khusus, Kyai Rifa’i menghubungkan keikhlasan dalam pesantren dengan keberkahan hidup seluruh pihak yang terlibat dengan pesantren. Pendidikan di pesantren bisa berkah kalau seluruh pihak ikhlas. Dari kyai, guru, santri, hingga wali santrinya. Termasuk alumni dan donatur pesantren. Ketika itu terjadi, maka keberkahan hidup akan nyata. Ilmu sedikit yang didapat dari pesantren akan bermanfaat bagi kehidupan yang lebih luas. “Segala gerak gerik dalam pondok pesantren, harus berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam, sehingga dengan demikian terdapatlah suasana hidup yang harmonis,” terang Kyai Rifa’i.

Keberkahan akan menjadi harmoni, sistem keseimbangan dalam hidup. Ia akan menyaring sikap hidup yang berlebihan terhadap sesuatu. Ia akan menghadirkan kebaikan dan keselamatan. Hidup berkah akan muncul dari keikhlasan yang terus menerus dilatih dan dilakoni tanpa henti. Keikhlasan harus dipelajari dari mana saja, bukan saja dari buku, namun bisa juga dari kehidupan riil yang paling bawah. Bagi santri, ia harus belajar keikhlasan dari kyai. Bagi kyai, ia perlu belajar keikhlasan dari santri. Begitulah kira-kira sistem keseimbangan yang terbangun dalam pesantren. Kyai mendoakan santri, santri mendoakan kyai. Keikhlasan, pada hakikatnya, menjadi ibadah fundamental dalam sistem pendidikan pesantren.

Tak ayal lagi, semua yang terlibat dalam kehidupan pesantren, sesungguhnya adalah santri, satu predikat bagi para pihak yang terus menerus mengasah nilai-nilai keikhlasan. Jika demikian, pesantren akan menjadi kampung kesejatian yang penuh keberkahan, sebuah gelombang yang memendarkan nilai-nilai kesejatian sebagai bekal pulang ke alam sejati. (*)

Tangerang, 2020.

===============
*Chavchay Syaifullah adalah Penyair. Alumni Pesantren Daar el Qolam, Jayanti, Tangerang, Banten dan Pesantren Raudhoh al Hikam, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Aktivis Persaudaraan Muslimin Indonesia (PARMUSI). Kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Rifa’i Center (RICE).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here