Prinsip Islam Dalam Menangkal Hoax

0
6 views

Oleh: Ahmad Kholikul Khoir*

Akhir-akhir ini, masyarakat Indonesia tengah dihebohkan dengan peristiwa kerusuhan yang terjadi di Papua dan Papua Barat. Sedihnya, kerusuhan dan konflik ini disulut oleh isu rasial dan hoax. Sehingga, sangat membahyakan keutuhan dan negara Indonesia. Berita bohong alias hoax tidak hanya terjadi di era digital ini. Bahkan dalam sejarah islam, hoax telah terjadi sejak masa Nabi Adam, yang di bohongi oleh iblis agar memakan buah khuldi. Maka pada akhirnya, Nabi Adam pun dikeluarkan Allah dari Surga.

Tidak sedikit hoax di Indonesia yang dibuat karena alasan politic election. Sebagaimana informasi yang menyebutkan bahwa jutaan pekerja China telah masuk ke Indonesia. Hingga, tuduhan bahwa Presiden Jokowi adalah antek China dan afiliasi Partai Komunis Indonesia. Padahal, realita dilapangan tidak demikian. Maka, banyak pihak menilai, hal itu hanya sentiment untuk mendongkrak elektabilitas politik.

Begitu besarnya dampak hoax bagi kehidupan manusia. Sehingga, jauh sebelumnya Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan umatnya agar selalu melakukan check and recheck (tabayyun) pada setiap informasi yang datang. Sebagaimana tercantum dalam surat Al-hujurat (6) “Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan”

Untuk itu, perlu adanya sikap kritis dan bijak agar hoax dapat ditanggulangi. Terdapat beberapa prinsip utama dalam islam yang dapat dugunakan untuk melawan hoax. Pertama, prinsip pahala dan dosa. Prinsip ini menjelaskan bahwa setiap pernyataan kita, baik pesan maupun tulisan, mempunyai konsekuensi pahala dan dosa. Oleh karena ingin menjauhi dosa dan mendapatkan pahala, maka orang akan hati-hati dalam menyaring dan menyebarluaskan informasi.

Kedua, berkata positif. Diriwayatkan dalam kitab almuwatho’ bahwa suatu ketika nabi Isa bertemu dengan seekor babi di suatu jalan, lalu dia berkata: “Lewatlah dengan selamat! ” Ada yang bertanya; “Engkau ucapkan seperti ini kepada seekor babi? ” Isa bin Maryam menjawab: “Aku takut jika lisanku terbiasa mengucapkan kata-kata kotor.

Karenanya, kita harus terus berkata positif kepada siapapun. Hal ini sangat relevan dengan era sekarang, dimana ujaran kebencian dengan mudahnya tersebar di media sosial. Akhirnya, muncullah hoax sampai radikalisme.
Ketiga, pengawasan. Sebagaimana firman Allah QS. Qaf ayat 16-18 yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”

Setiap muslim dituntut untuk memiliki kepercyaan akan adanya malaikat Allah, dimana salah satunya adalah percaya akan adanya malaikat Raqib (pencatatat kebaikan) dan Atid (pencatat keburukan). Maka jika setiap orang memiliki prinsip dan kepercayaan ini. Orang tersebut akan sangat berhati-hati dalam menyebarkan setiap informasi.

Keempat, selektivitas dan validitas. Sesuai dengan QS Alhujurat (6) bahwa kita harus terus melakukan tabayyun. Karena berbicara menggunakan data dan informasi yang akurat adalah satu diantara ciri pribadi yang baik. Tingkat kredibilitas infromasi yang akurat dapat menjauhkan dari kesalahpahaman pada informasi. Sehingga, hoax dapat dihindarkan.

Kelima, saling mempengaruhi. Komunikasi antar manusia adalah aktivitas menyampaikan dan menerima informasi dari dan kepada orang lain. Dengan komunikasi, seseorang dapat mengubah informasi dan pemahaman yang keliru. Sebagaimana Nabi bersabda “Barangsiapa mempelajari keindahan bahasa untuk menjadikan hari orang-orang condong kepadanya, maka pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib atau nafilahnya.” HR. Bukhori No. 4749, 5325; Muslim No. 1437.

Sungguh, setiap agama mengajarkan kebaikan dan kebijakan pada setiap pemeluknya. Maka dari itu, sebagai bangsa yang beragama, selayaknya kita memperdalam dan menginternalisasikan nilai-nilai agama pada diri kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang pintar dalam memilah dan memilih informasi.

*Penulis merupakan mahasiswa S1 program studi psikologi sekaligus awardee Hafizd Quran Universitas Islam Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here