Budidaya Ayam Cemani Harga Jual Tinggi

0
170

BantenKini.com KOTA TANGERANG – Langka, banyak dicari orang dan bernilai ekonomi tinggi, di Kota Tangerang hanya ada di sudut wilayah Kelurahan Pakojan Kecamatan Pinang. Ayam berbulu hitam dan dagingnya pun hitam ini biasa disebut Cemani. Ayam cemani umumnya digunakan hanya untuk ritual tertentu. Bagi sebagian masyarakat tanah Jawa, ayam cemani ini menjadi salah syarat dalam ritual tertentu.

Wahyu, pria berusia 30 tahunan ini mengaku membudidayakan ayam cemani ini sejak tiga tahun lalu. Di samping rumah kontrakannya di bilangan Kelurahan Pakojan terdapat lahan kosong milik pengembang raksasa di kawasan Kecamatan Pinang. Di lahan itu, ia membuat kandang untuk memelihara ayam cemani dan ayam suro.

Di area kandang ayam seluas 6 meter x 6 meter ia pagari dengan bilah bambu agar hewan peliharaannya itu tidak berkeliaran jauh. Di sudut yang menempel dengan dinding kontrakan tempat tinggalnya, ia buatkan kandang ayam ukuran 2 x 1 meter berbentuk panggung. Sementara di deket kandang dibuatkan tungku untuk membakar kayu.

“Pesan bapak saya, kalo membuat kandang ayam harus ada tungku. Ini gunanya agar di kandang ayam tidak ada kuman atau pun virus. Sebab lingkungan kandang ayam tiap hari diasapi oleh kayu bakar yang ada di tungku ini,” jelas Wahyu saat ditemui di kandang ayam cemani miliknya, Senin 27 Januari 2020.

Wahyu mengaku, dalam sebulan bisa menjual tujuh ekor ayam cemani usia empat bulan. Disebutkannya, ayam cemani ini ada empat jenis yakni bulu halus, bulu walik (keriting), bulu rajek atau bulu lidi dan gundul. Ia juga membudidayakan ayam suro walik putih (ayam putih keriting). Saat ini, di kandangnya tersisa 11 ekor ayam cemani dan dua ekor ayam suro.

Diungkapkannya, pasaran harga ayam cemani bulu halus usia empat bulan kisaran Rp500 ribu per ekor. Sementara usia dua bulan Rp300 ribu per ekor. Sedangkan harga pasaran ayam cemani bulu walik umur dua bulan Rp400 ribu per ekor dan umur empat bulan Rp800 ribu.

“Harga pasaran ayam cemani bulu walik lebih tinggi ketimbang ayam cemani bulu halus. Namun secara pasar lebih banyak peminat bulu halus. Kami juga menyediakan ayam suro walik atau ayam putih keriting. Biasanya pembeli datang ĺangsung ke sini. Mereka membeli ga pake tawar menawar, langsung bayar aja,” jelas Wahyu.

Diungkapkan Wahyu, bila persediaan ayam cemani di kandangnya tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan pasar, maka ia mendatangkan hewan itu dari wilayah Ciater, Kota Tangerang Selatan. Bila ada ayam yang sakit, terang Wahyu, sebagai obat ia beri bawang merah, bawang putih dan kunyit. Tiga bumbu dapur itu ditumbuk halus kemudian diberikan kepada ayam yang sakit (dicekok).

“Pengetahuan pengobatan tradisional itu belajar dari ayah saya di Sumedang. Selain itu ayam harus dilepas agar terkena sinar matahari tiap hari. Ini dimaksudkan agar kondisi fisik ayam menjadi kuat dan tidak rentan terhadap penyakit,” ungkap Wahyu yang mengontrak rumah di RT 04 RW 03 Kelurahan Pakojan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

Pembeli ayam cemani ini, tambah wahyu selain masyarakat yang tinggal di Kota Tangerang juga datang dari daerah Bogor dan Serang. Diceritakannya, pernah suatu malam dirinya kedatangan tamu yang ingin membeli ayam cemani. Tamu itu minta disediakan ayam cemani malam itu juga. Pembelinya berani membayar Rp7 juta satu pasang. Akhirnya, kata Wahyu harga disepakti, deal.***

Ateng Sanusih | Yahya Suhada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here